
Jurnalindependenpers, Palembang- Lagu “Shoutu Shofiri Al Bulbuli” yang viral di TikTok ataupun sosial media lainnya. Lagu yang viral dengan nma TOB TOBI TOP dilengkapi dengan arti, Lirik dalam tulisan Arab dan latin serta asal muasalnya. Banyaknya konten dari kreator yang menggunakan lagu tersebut menginspirasi untuk mencari sedikit info mengenai Syair tersebut Lirik lagu begitu lain dari yang lain sehingga harus dihapalkan dengan ucapan yang benar, baru enak didengar. Rata rata lirik lagu mudah untuk mengulanginya tanpa harus menghapal.
Keunikan Showtu Shofiri Al Bulbuli ini dikaitkan dengan kisah Abdul Malik bin Quraib Al-Asma’i, seorang ahli sastra Arab yang hidup pada masa kekhalifahan Abu Ja’far al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah. Abdul Malik Ibn Al Quraib Al Asma’i atau yang lebih dikenal dengan sapaan Al Asma’i. Dilahirkan di Basrah pada tahun 739 M. Merupakan seorang ahli sastra Arab sekaligus ilmuwan pertama dibidang Anatomi, Zoologi, Botani dan penjagaan hewan. Karyanya yang fenomenal adalah kitab Khalq Al Insan yang mengkajii tentang manusia. Al Asma’i tercatat sebagai orang pertama yang mempelajari manusia di zamannya. Buku ini berisi tentang anatomi manusia. Hal ini membuktikan pengetahuannya yang mendalam dan luas mengenai bidang tersebut. Ahli sastra di zaman itu adalah ilmuwan sekaligus ulama yang hapal Al Qur’an. Setiap Syair yang dibuat akan ada kisah yang memberi peringatan bagi kita semua.

Khalifah Abu Jafar Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abbas bin Abdul Muthalib adalah Cucu keponakan Nabi Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Khalifah al Mansur adalah Khalifah kedua Bani Abbasiyah memerintah dari tahun 754 hingga 775 M. Khalifah Almansur dikenal karena kecerdasan dan kepemimpinannya. Almansur dikenal sebagai pendiri Madinat al-Salam dengan ibukota Baghdad. Khalifah Al Mansur memiliki daya ingat yang luar biasa. Ia mampu mengingat semua syair yang dibacakan orang hanya dalam sekali dengar saja. Khalifah Al-Mansur pendiri Baitul Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan yang menjadi pusat intelektual dan keilmuan pada zaman keemasan Islam.

Sang khalifah membuat sayembara untuk menantang semua penyair di wilayah kekuasaannya. Al Mansur ingin mendapatkan puisi baru yang belum pernah didengar, dan tidak bisa dihafal dalam sekejap. Kemampuan luar biasa dari Khalifah Al Mansur nampak saat penyair mulai membacakan puisi mereka dalam sayembara. Khalifah mampu membacakan ulang semua puisi dari para penyair tanpa ada kesalahan. Bahkan Al Manshur menyuruh budak laki-lakinya melantunkan syair. Sang khalifah lantas menyuruh budak perempuannya untuk berbuat hal sama.
Tidak ada satu pun penyair yang mampu membuat syair “PUISI BARU’ seperti yang diminta Al Mansur. Semua syair mereka selalu bisa diucapkan ulang oleh sang khalifah. Demikian pula budak laki-laki dan perempuan Al Mansur juga bisa melafalkan syair-syair tersebut. Sebenarnya sebagaimana Khalifah, Budak laki-lakinya mampu menghafal apa pun yang didengar dua kali di depannya. Sedangkan budak perempuan khalifah mampu menghafal apa saja yang didengar 3 kali di depannya. Jadi walau Puisi baru kali itu dilantunkan penyair, khalifah mampu mengulangnya, lalu budak laki-laki kemudian budak perempuan.
Hampir semua penyair tak bisa membuktikan bahwa syair mereka “baru”, bahkan meski baru dibuat malam sebelumnya. Sampai kemudian, Abdul Malik bin Quraib Al-Asma’i maju menghadap khalifah. Ia membacakan syair “Showt Safitri Al Bulbuli” (Suara Siulan Burung Bulbul).
Syair tersebut penuh dengan kata-kata yang membelit lidah bahkan Khalifah dengan daya ingat yang kuatpun yang tidak bisa mengulanginya dengan benar dalam sekali dengar. Karena khalifah tidak bisa menirukan syair maka kedua budaknya pun tidak bisa.
Khalifah mengaku kalah. kekalahannya. Sebagaimana janjinya maka Al-Asma’i diminta untuk membawa kertas puisi tadi. Sang penyair akan mendapatkan emas sesuai berat kertas berisi puisi tadi.
Al-Asma’i berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak menulis puisiku di atas kertas tapi pada tiang marmer. Tiang marmer hanya dapat dibawa oleh empat orang pengawalmu.
Khalifah yang sudah berjanji akan memberikan hadiah emas untuk puisi baru jadi tidak punya pilihan lain. Namun ternyata Al-Asma’i berkata bahwa dia datang bukan untuk hadiah emas. Ia akan pergi dari hadapan khalifah apabila Khalifah mau memberikan emas setiap kali penyair datang dengan puisi baru. Para Penyair juga memiliki keluarga dan tanggungan. Puisi “Showt Safitiri Al Bulbuli” adalah teguran Al-Asma’i atas perilaku Al Mansur sebelumnya. (Dikutip dari berbagai sumber)
“Shoutu Shofiri Al Bulbuli”
صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ
(Suara Siulan Burung Bulbul).
صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ هَيَّجَ قَلْبِيَ الثَمِلِالمَاءُ وَالزَّهْرُ مَعَاً مَعَ زَهرِ لَحْظِ المُقَلِ
Showtu shofiril-bulbuli Hayyaja qolbi ya tsamili Al-ma’u waz-zahru ma‘a Ma‘a zahri lahzhil-muqoli
Suara siulan burung bulbul menggetarkan hatiku yang mabukAir dan bunga, beserta mekarnya sekilas pandangan mata.
وَأَنْتَ يَاسَيِّدَ لِي وَسَيِّدِي وَمَوْلَى لِيفَكَمْ فَكَمْ تَيَّمَنِي غُزَيِّلٌ عَقَيْقَلي
Wa anta ya sayyidali Wa sayyidi wa mawla li Fa-kam fa-kam tayyamani Ghuzayyilun ‘aqoyqoli
Dan engkau, tuanku, penguasaku, dan pelindungku. Seberapa sering, seberapa sering seekor rusa kecil dengan kalung memikat aku.
قَطَّفْتُ مِنْ وَجْنَتِهِ مِنْ لَثْمِ وَرْدِ الخَجَلِفَقَالَ لاَ لاَ لاَ ثم لاَ لاَ لاَ وَقَدْ غَدَا مُهَرْوِلِ
Qataftuhu Min Wajnatihi mil latsmi wardil khajali Faqola la la la la la la Wa qod ghoda muharwili
Kupetik dari pipinya, mencium bunga mawar penuh rasa malu. Dia berkata, “Tidak, tidak, tidak, tidak,” dan kemudian berlari cepat.
وَالخُودُ مَالَتْ طَرَبَاً مِنْ فِعْلِ هَذَا الرَّجُفَوَلْوَلَتْ وَوَلْوَلَتُ وَلي وَلي يَاوَيْلَ لِي
Wal-khudu malat thorobam Min fa’li hadzar-rojuli Fawal walat wa-wal walatWali wali ya wayla li
Gadis belia itu terbuai kegembiraan karena tingkah lelaki ini. Dia meratap dan meratap, “Celakalah aku, celakalah aku, oh celakalah aku!”
فَقُلْتُ لا تُوَلْوِلِي وَبَيِّنِي اللُؤْلُؤَ لَيقَالَتْ لَهُ حِيْنَ كَذَا انْهَضْ وَجِدْ بِالنَّقَلِ
Faqultu la tuwal wili Wabay yinil-lu’lu’ ‘ali Qolat lahu hina kadza Inhadh wa jid bin-naqoli
Aku berkata, “Jangan menangis dan perlihatkan kepadaku mutiaramu.” Aku menciumnya dengan hidungku, lebih harum dari cengkeh.
وَفِتْيَةٍ سَقَوْنَنِي قَهْوَةً كَالعَسَلَ لِيشَمَمْتُهَا بِأَنْفِي أَزْكَى مِنَ القَرَنْفُلِ
Wa fityatin saqownan Qohwa tin kal-‘asalali Shamamtuha bi-‘anfi Azka minal-qoronfuli
Di tengah taman yang dihiasi bunga-bunga dan kegembiraan bagiku.
فِي وَسْطِ بُسْتَانٍ حُلِي بالزَّهْرِ وَالسُرُورُ لِيوَالعُودُ دَنْ دَنْدَنَ لِي وَالطَّبْلُ طَبْ طَبَّلَ لِي
Fi wasthi bustanin huli Biz-zahri was-sururu li Wa ‘udu dandan dana li Wath-thoblu thob thob thoba li
Kecapi berbunyi “dun dun dun” untukku, dan genderang berbunyi “tob tob” untukku.
طَب طَبِ طَب طَبِ طَب طَب طَبَ ليوَالسَّقْفُ قَدْ سَقْسَقَ لِي وَالرَّقْصُ قَدْ طَبْطَبَ لِي
Thob thobbi thob thob thobbi thob Thob thobbi thob thob thoba li Was-saqqufu saqq saqq saqqo li War-roqshu qod thob thoba li Tob Tobi Tob Tob Tob Tob Tob Tob Tob”
Thob thobbi thob thob thobbi thob Thob thobbi thob thob thoba atapnya berguncang “saq saq saq” bagiku, dan tariannya menyenangkanku.
شَوَى شَوَى وَشَاهِشُ عَلَى وَرَقْ سَفَرجَلِوَغَرَّدَ القَمْرُ يَصِيحُ مِنْ مَلَلٍ فِي مَلَلِ
Syawa syawa wasya hisyu Ala waroq sifarjali Wa ghorrodal-qomru yashihu Malalin fi malali
Jika kamu melihatku menunggangi keledai kurus
فَلَوْ تَرَانِي رَاكِباً عَلَى حِمَارٍ أَهْزَلِيَمْشِي عَلَى ثَلاثَةٍ كَمَشْيَةِ العَرَنْجِلِ
Fa law taroni rokiban Ala himarin ahzali Yamsyi ‘ala tsala tsatin Khamasy yatin ‘aronjili
Dia berjalan dengan tiga kaki seperti gaya seseorang yang lumpuh.
وَالنَّاسُ تَرْجِمْ جَمَلِي فِي السُوقِ بالقُلْقُلَلِوَالكُلُّ كَعْكَعْ كَعِكَعْ خَلْفِي وَمِنْ حُوَيْلَلِي
Wan-nasu tarjim jamali Fi suqi bal-qulqolali Wa kullu ka’ka’ ka’ka’Kholfi wa min huwaylali
Dan orang-orang melempari untaku dengan batu di pasar sambil mengeluarkan suara “qalqalli”. Semua orang (menggaungkan) “ka ka ka” di belakang dan di sekelilingku
لكِنْ مَشَيتُ هَارِبا مِنْ خَشْيَةِ العَقَنْقِلِيإِلَى لِقَاءِ مَلِكٍ مُعَظَّمٍ مُبَجَّلِ
Lakin masyaytu haribam Min khosy yati ‘aqonqili ‘Ila liqa’i malikim Mu‘azh zhomim mubajjali
Namun kumenjauh, melarikan diri karena takut pada belenggu. Untuk bertemu dengan Sang Raja Agung nan dihormati.
يَأْمُرُلِي بِخِلْعَةٍ حَمْرَاءُ كَالدَّمْ دَمَلِيأَجُرُّ فِيهَا مَاشِياً مُبَغْدِدَاً للذيَّلِ
Ya’muru li bikhil‘atin Hamra’u kad-dam dama li Ajurru fiha masyiam Mubagdida al lidz-dzayli
Dia memerintahkanku memakai jubah merah, semerah dara . Aku berjalan mengenakannya, sembari menyeret ujung jubahku.
أَنَا الأَدِيْبُ الأَلْمَعِي مِنْ حَيِّ أَرْضِ المُوْصِلِنَظَمْتُ قِطَعاً زُخْرِفَتْ يَعْجَزُ عَنْهَا الأَدْبُ لِي
Ana al-adi bul-alma‘i Min hayyi ardhil-mushili Naẓhomatu qiṭho‘an zukhrifat Ya‘jizu ‘anhal-adbu li
Akulah penyair paling cemerlang dari tanah Mosul. Kugubah karya demikian indahnya sehingga tiada ditandingi para pujangga
أَقُولُ فِي مَطْلَعِهَا صَوْتُ صَفيرِ البُلْبُلِ
Aqulu fī muthla ‘iha Showtu shofīrl-bulbuli
Kukatakan pada awalnya suara kicau burung bulbul
Sumber: Wikipedia, Biografi Al Asma’i, Film Shoutu Shofiri Al Bulbuli, http://amatillaah-muslimahsejati.blogspot.com/2009/10/abdul-malik-ibn-quraib-al-asmai-740-828.html. http://id.wikipedia.org/wiki/Abdulmalik_bin_Quraib_Al-Asma%27i http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2009/10/ilmuwan-botani-dan-zoologi-islam.html
Khalifah Abbasiyah,, Asal muasal kota Bagdad, Ilmuwan ilmuwan Islam. Dan dari berbagai sumber lainnya.